Kabut

Mengapa kebakaran gambut sulit dipadamkan

Diterbitkan 19 Oktober 2026

Kabut asap terburuk Indonesia berasal dari gambut yang membara di bawah tanah berminggu-minggu. Ini sebab asapnya pekat dan sulit dipadamkan dari udara.

Apa itu gambut

Gambut adalah tanah yang terbentuk dari tumbuhan yang tidak pernah selesai membusuk. Di hutan rawa, daun, kayu dan akar jatuh ke tanah yang tergenang air sepanjang tahun, dan tanpa udara bakteri pengurai tidak bisa bekerja. Selama ribuan tahun sisa tumbuhan itu menumpuk menjadi lapisan gelap seperti spons yang bisa mencapai beberapa meter dalamnya.

Indonesia memiliki sebagian lahan gambut tropis terluas di dunia, terutama di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Dalam keadaan alami, rawa gambut terlalu basah untuk terbakar: muka air tanahnya berada di atau dekat permukaan, dan gambut itu lebih banyak berisi air daripada yang lain.

Bagaimana gambut mengering

Gambut menjadi bahan bakar ketika dikeringkan. Untuk menanam di lahan gambut, kebun dan pertanian menggali kanal yang menurunkan muka air tanah. Sepanjang musim kemarau lapisan atas gambut mengering dan mulai terurai, permukaan tanah turun, dan lapisan kering itu makin tebal setiap tahun selama kanal terus mengeringkannya.

Kalimantan Tengah menunjukkan betapa lama dampaknya bertahan. Pada 1990-an, Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare menggali ribuan kilometer kanal di rawa gambut sekitar wilayah yang kini Palangka Raya, untuk dijadikan sawah. Padinya tidak pernah berhasil, tetapi kanalnya terus mengeringkan lahan, dan kawasan itu terbakar setiap tahun kering sejak saat itu.

Api mencapai gambut kering dengan beberapa cara: pembukaan lahan dengan membakar, api yang lepas dari ladang atau tumpukan sampah, atau kebakaran permukaan pada vegetasi kering yang menjalar ke tanah di bawahnya.

Mengapa membara, bukan menyala

Begitu tersulut, kebakaran gambut lebih mirip tungku arang daripada kebakaran hutan. Api merambat ke bawah dan ke samping di lapisan kering, di bawah permukaan, dengan sedikit atau tanpa nyala yang terlihat. Ia terbakar perlahan pada suhu lebih rendah, dan justru karena itu asapnya sangat banyak: membara adalah pembakaran tidak sempurna, dan pembakaran tidak sempurna menghasilkan jauh lebih banyak partikel halus dan karbon monoksida per kilogram yang terbakar dibanding nyala terbuka.

Kebakaran gambut juga bisa bertahan berminggu-minggu dan muncul kembali. Api yang tampak padam di permukaan bisa terus bergerak di bawah tanah dan muncul lagi di tempat lain, kadang setelah hujan.

Inilah sebabnya kabut asap dari gambut begitu pekat dan bertahan lama, dan mengapa kota seperti Palangka Raya, Pekanbaru dan Palembang bisa mencatat Berbahaya berhari-hari pada musim yang buruk. Musim kabut asap Indonesia, dijelaskan membahas kalender dan cuaca di baliknya.

Mengapa sulit dipadamkan

Dalam praktiknya, banyak kebakaran gambut baru berhenti ketika musim hujan menaikkan muka air tanah lagi.

Pencegahan: mengembalikan air

Karena rawa gambut yang basah tidak terbakar, pertahanan paling efektif adalah menjaga gambut tetap basah. Menyekat kanal drainase dengan bendungan agar menahan air alih-alih mengalirkannya, membasahi kembali lahan yang telah dikeringkan, dan menanam kembali vegetasi rawa asli adalah cara-cara utamanya. Setelah kabut asap 2015, Indonesia membentuk badan nasional untuk restorasi gambut, kini Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), untuk tugas ini.

Pembasahan kembali butuh bertahun-tahun untuk terlihat hasilnya, dan hanya berhasil bila kanalnya tetap tersekat. Namun langkah inilah yang menjawab mengapa gambut terbakar, bukan sekadar api di depan mata.

Apa yang dilihat satelit, dan apa yang terlewat

Titik api di peta Kabut adalah deteksi NASA FIRMS: titik tempat satelit mengukur panas lebih tinggi daripada sekitarnya saat melintas. Cara ini bekerja baik untuk nyala terbuka, dan kurang baik untuk gambut.

Jadi jumlah titik panas adalah petunjuk yang baik tentang seberapa banyak yang terbakar dan di mana, bukan hitungan kebakaran yang tepat. Metodologi menjelaskan cara Kabut menghitung dan menghapus duplikatnya.

Bacaan terkait