Kabut

Abu vulkanik dan kesehatan

Diterbitkan 19 Oktober 2026

Abu vulkanik bukan asap: ia berupa batuan dan kaca yang hancur. Ini dampaknya, cara melindungi diri, dan cara Kabut melaporkannya.

Abu bukan asap

Kabut asap dari kebakaran berasal dari pembakaran: jelaga, butiran tar dan gas dari tumbuhan dan gambut. Abu vulkanik berasal dari batuan. Letusan eksplosif menghancurkan magma dan batuan di sekitar kawah menjadi serpihan, dan yang paling halus adalah kepingan kecil kaca vulkanik dengan tepi tajam dan bergerigi. Abu tidak larut dalam air, bisa terbawa angin ratusan kilometer, dan ketika jatuh mengendap sebagai pasir halus di mana-mana.

Kabut sengaja memisahkan keduanya. Di peta, deteksi api dan asap yang ditimbulkannya digambar dengan warna jingga bara, sedangkan peringatan abu berwarna ungu dan gunung api ungu yang lebih terang, sehingga sebaran abu di atas Jawa tidak terbaca sebagai garis api.

Indonesia punya gunung api aktif lebih banyak daripada hampir semua negara lain, dan beberapa cukup sering meletus sehingga abu menjadi kejadian rutin bagi warga di sekitarnya: antara lain Merapi dekat Yogyakarta, Semeru di Jawa Timur, Sinabung di Sumatera Utara, Lewotobi Laki-laki di Flores dan Ruang di lepas pantai Sulawesi Utara.

Dampaknya pada tubuh

Bagi kebanyakan orang, hujan abu tipis lebih bersifat mengiritasi daripada berbahaya, tetapi tetap tidak nyaman:

Abu yang paling halus berukuran sama dengan PM2.5 yang dilaporkan Kabut, sehingga hujan abu lebat juga bisa menaikkan pembacaan sebuah kota. Segera cari pertolongan bila sesak napas, nyeri dada, atau pusing, sama seperti saat kabut asap pekat.

Melindungi diri

Air dan atap

Cara Kabut melaporkan gunung api dan abu

Dua fakta terpisah, dari dua sumber terpisah, dan yang satu tidak menyiratkan yang lain.

Gunung bisa sedang meletus tanpa abu di udara, dan abu masih bisa berada di udara setelah letusan reda, sehingga tab Gunung tidak pernah menghitung gunung yang punya peringatan abu sebagai sedang meletus.

Untuk sebuah kota, Kabut menentukan satu hal: apakah kota itu berada di bawah awan abu, apakah ada awan yang bergerak ke arahnya, atau hanya apakah ada awan di dekatnya. Kabut menyebut awan abu "menuju ke arahmu" hanya dalam jarak 300 km, sehingga gunung di ujung lain kepulauan tidak bisa mengklaim abu sedang menuju kotamu. Kabut tidak memperkirakan kapan abu akan tiba. Sebuah peringatan hanya memberi satu arah pada satu ketinggian, dan itu tidak cukup untuk menjanjikan waktu. Metodologi memuat rinciannya.

Peringatan resmi berasal dari PVMBG

Kabut tidak menampilkan status resmi gunung api — Normal, Waspada, Siaga dan Awas — karena PVMBG, badan vulkanologi Indonesia, tidak menerbitkan umpan data publik untuknya. Periksa di magma.esdm.go.id, dan selalu ikuti arahan pemerintah setempat, terutama zona larangan di sekitar gunung. Zona itu ada karena bahaya yang jauh lebih besar daripada abu: awan panas dan lahar bergerak cepat dan nyaris tanpa peringatan.

Ini informasi umum, bukan nasihat medis.

Bacaan terkait